Tuhan Tidak Dicari Ditempat Tapi Dihadirkan Di Sikap
Table of Contents
Kita pikir Tuhan ada di masjid. Di pesantren. Di
tempat-tempat suci. Di ritual-ritual tertentu.
Makanya kita rajin ke masjid... tapi pulang-pulang
masih nyinyir di grup keluarga. Kita rajin shalat
tahajud.. tapi pagi-paginya bentak anak atau
pasangan karena hal sepele.
Rajin ikut kajian... tapi masih suka ngomongin aib orang.
Lalu kita bingung... kenapa hidup kita nggak
berubah? Kenapa hati kita masih gelisah?
Karena kita salah paham.
Tuhan itu bukan objek yang dicari di TEMPAT.
Tuhan itU KEHADIRAN yang dihadirkan di SIKAP.
Coba renungkan ayat ini sama-sama:
"Dan Aku lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya." (QS. Qaf: 16).
Kalau Tuhan sudah sedekat urat leher kita,
kenapa kita masih sibuk "mencari" Dia di luar
sana?
Yang kita butuhkan bukan mencari Tuhan, tapi
MENGHADIRKAN kesadaran akan kehadiran-Nya dalam setiap detik hidup kita.
Tuhan itu hadir ketika kamu sabar menghadapi
orang yang menyakitimu. Tuhan itu hadir ketika
kamu memilih diam daripada membalas hinaan.
Tuhan itu hadir ketika kamu ikhlas kehilangan
sesuatu yang kamu sayang.
Tuhan itu hadir ketika kamu pilih jujur meski bisa berbohong dan aman. Tuhan itu hadir ketika kamu bersyukur di tengah kekurangan. Tuhan itu hadir ketika kamU memaafkan... meski luka belum sembuh total.
Ini yang dimaksud dalam hadits Qudsi :
"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku,
dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku."
Mengingat Tuhan bukan cuma dzikir di lisan.
Mengingat Tuhan itu KESADARAN dalam setiap pilihan, setiap nafas, setiap sikap.
Makanya banyak orang yang rajin beribadah tapi hatinya masih keras. Banyak orang yang hafal Al-Quran tapi akhlaknya masih buruk.
Banyak orang yang rajin sedekah tapi masih sombong.Karena mereka mengira Tuhan hanya hadir di ritual. Padahal ritual itu cuma LATIHAN.
Latihan
untuk menghadirkan kesadaran llahi dalam
KEHIDUPAN NYATA.
Shalat itu bukan pula bentuk dari tUjuan akhir.
Shalat itu latihan agar kamu bisa "shalat" dalam setiap langkah hidupmu. Puasa itu bukan cuma menahan lapar.
Puasa itu latihan mengendalikan diri, agar kamu bisa "puasa" dari amarah, dari dengki, dari ambisi yang merusak dirimu sendiri.
Jadi, berhentilah mencari Tuhan di luar sana.
Mulailah MENGHADIRKAN Tuhan di dalam sini.
Di cara kamu merespons kehilangan.
Di cara kamu memperlakukan orang yang nggak bisa kasih apa-apa ke kamu.
Di cara kamu tetap lembut meski dunia keras
padamu.
Di cara kamu memilih cinta.. ketika kebencian
jauh lebih mudah.
Karena pada akhirnya, orang yang benar-benar
dekat dengan Tuhan bukan yang paling sering ke masjid (walau itu juga tak kalah pentingnya). Tapi yang masjidnya JALAN KEMANA-MANA.
Yang sujudnya bukan cuma di sajadah, tapi di
setiap keputusan untuk tunduk pada kebenaran.
Yang dzikir-nya bukan cuma di lisan, tapi di setiap sikap yang mencerminkan keindahan akhlak.
Tuhan tidak dicari di tempat.
Tuhan dihadirkan di sikap.
Dan ketika sikapmu sudah menjadi cerminan
kehadiran-Nya...Saat itulah kamu menemukan
kedamaian yang sesungguhnya.
Bukan karena kamu "menemukan" Tuhan,
Tapi karena kamu akhirnya SADAR...
Dia tidak pernah pergi dari kamu.
Kamu yang menjauh dengan kebiasaan lupa.
Sekarang, saatnya pulang.
"Wa huwa ma'akum ayna maa kuntum" - Dan Dia
bersama kamu di mana pun kamu berada. (QS.Al-Hadid: 4)
Sumber : Ardha | You Are The Brand (Tiktok)
Posting Komentar